Iklan

Whatsapp Image 2021 03 04 At 08.50.32

Whatsapp Image 2021 03 04 At 08.50.32

Flickr Feed

Img 20220506 Wa0006

Ustadz Abdul Haris: Seni Ketoprak Sebagai Panggung dakwah Trah Singo Lesono

91
Spread the love

Gunungkidul, suaradjogja.com — Trah Singo Lesono yang hingga saat ini berjumlah 510 orang menggelar acara Panggung Dakwah berupa seni pertunjukan Kethoprak dengan lakon ( judul ) ” MINAK JINGGO ORA LENO “. Pertunjukan seni panggung yang mengandung maksud menjadi media dakwah Islam ini digagas oleh salah seorang cucu Eyang Singo Lesono,

Hari Abdul Haris yang menjadi Ustadz dan tinggal di Bandung, Jawa Barat.Dimana petas seni kethoprak itu sendiri merupakan rangkaian kegiatan syawalan pada hari raya Idul Fitri 1443 H / 2022 M bagi anak cucu Eyang Singo Lesono.

Img 20220506 Wa0007

Menurut Esti Rohani S.Pd selaku panitya keluarga, anak – cucu Eyang Singo Lesono sampai saat ini berjumlah 510 orang, yang menyebar diberbagai kota dari Sabang sampai Meraoke, bahkan ada yang di Luar Negri. Alhamdulillah untuk tahun ini kami bisa berkumpul bersenang – senang bareng.Sehingga selain diadakan reuni dengan acara syawalan, juga diadakan pentas seni Campur Sari maupun Kethoprak.

Mengenai biaya untuk semua kegiatan ini kami mengumpulkan dana dengan cara umbuk ( iuran ) tiap – tiap orang sebesar Rp 50.000,- ditambah dari beberapa orang donatur, sampai terkumpul lebih dari Rp 40 juta, kata Esti.

Kami berharap acara kumpul saudara ini bisa kita adakan 5 tahun sekali atau paling cepat 3 tahun sekali. Guna menyambung tali silaturahmi, kami membuat sebuah group whatsapp agar terus terjalin komunikasi antar saudara.

Sementara menurut Ustadz Hari Abdul Haris yang menggagas pentas seni sebagai panggung Dakwah Islam karena dengan seni pertunjukan apapun jenisnya, selain mudah diterima oleh umat, kita sebagai orang Jawa jangan melupakan tradisi dan budaya yang ada. Sebab dengan cara seperti ini kita bisa menyampaikan pesan – pesan moral religius pada masyarakat luas. Seperti halnya judul Kethoprak yang kita tampilkan pada syawalan trah kemarin, kita plesetkan ( rubah ), dari judul aslinya ” MINAK JINGGO LENO ” menjadi ” MINAK JINGGO ORA LENO “. Ini dikandung maksud agar tidak ada adegan pembunuhan dan berharap agar orang – orang yang berlaku angkara murka ( dholim / jahat ) tersebut bertaubat kejalan yang benar.

(Rep/Lee anno)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Developed by Jasa Pembuatan Website Jogja