Iklan

Whatsapp Image 2021 03 04 At 08.50.32

Whatsapp Image 2021 03 04 At 08.50.32

Flickr Feed

Img 20191204 Wa0068

Tangkal Isu Toleransi, Balai Bahasa DIY adakan Lokakarya Merajut Toleransi Melalui Bahasa dan Sastra

319
Spread the love

SuaraDjogja.com, Yogyakarta – Setelah hasil penelitian lembaga setara Institute dibeberkan di media massa yang menyebutkan bahwa DIY masuk 10 besar daerah intoleran.  Balai Bahasa DIY mengadakan Lokakarya Merajut Toleransi Melalui Bahasa dan Sastra hari ini Rabu (4/12/2019) di Aula Kantor Balai Bahasa DIY.Acara ini sejalan dengan harapan Gubernur DIY perlunya budaya literasi ditingkatkan guna menangkal isu toleransi sebagaimana yang dituduhkan oleh lembaga Setara Institut bahwa dalam 12 tahun terakhir DIY masuk ke dalam 10 besar provinsi dengan kasus pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan (KBB) tertinggi di Indonesia. Sedangkan, selama lima tahun terakhir kasus KBB di Yogyakarta meningkat.

Dalam sambutannya Kepala Balai Bahasa DIY, DR. Pardi M.Hum., mengatakan bahwa benar atau tidaknya berita itu atau bagaimana bentuk intoleran itu, tentu masyarakat Yogyakarta sendiri yang bisa merasakannya. “Namun, setidaknya ada hal yang perlu diwaspadai dan diantisipasi.” pesan Pardi.

Menurut Ketua Panitia Lokakarya, Dr. Ratun Untoro, M.Hum.,peserta lokakarya ini berasal dari peserta yang mengirimkan tulisan dengan tema Bahasa, sastra, dan toleransi kemudian dipilih 66 artikel terbaik. Lebih lanjut Untoro mengatakan, “ artikel yang terpilih akan diterbitkan menjadi buku antologi”.

Pembicara pada lokakarya tersebut ialah Sekretaris Daerah DIY (Kadarmanto Baskoro Aji), Kepala Balai Bahasa DIY (Dr. Pardi, M.Hum), Sastrawan dan Budayawan Cecep Syamsul Hari, dan Akademisi UNY Dr. Affendy Widayat, M.Phil.  Acara lokakarya bertajuk “Merajut Toleransi melalui Bahasa dan Sastra” tersebut akan dimoderatori oleh Dr. Ratun Untoro, M.Hum. yang juga sekaligus menjadi penggagas kegiatan ini. Adapun peserta yang artikelnya terpilih terdiri dari berbagai latar belakang profesi yang tinggal di seluruh DIY. Menurut salah seorang peserta dari Kulonprogo Progo, Marwnto, acara semacam dirasakan sangat perlu untuk memberikan perspektif baru terkait toleransi. (Wil&)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Developed by Jasa Pembuatan Website Jogja