Iklan

Whatsapp Image 2021 03 04 At 08.50.32

Whatsapp Image 2021 03 04 At 08.50.32

Flickr Feed

Img 20221015 220409

Proyek Revitalisasi Kota Wonosari Sebagai Bentuk Arogansi Ranah Eksekutif

168
Spread the love

Gunungkidul, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul memulai proyek revitalisasi Kota Wonosari. Proyek ini akan dilaksanakan beberapa tahap dan dimulai hari Senin (19/9/2022), pada Minggu yang lalu.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Irawan Jatmiko mengatakan jika, fokus revitalisasi pada tahap pertama yaitu di kawasan Bundaran Siyono Playen hingga Kranon Wonosari. Disampaikan juga terkait jumlah anggaran untuk dua proyek yaitu proyek Pembangunan wajah kota dan proyek pembangunan gedung DPRD Gunungkidul.

“Penataan wajah kota tahap 1 akan dikucurkan anggaran sesuai nilai kontrak sebesar Rp7.687.876.000. Sementara gedung wakil rakyat ditargetkan kontrak pada Tanggal 23 September 2022 dengan nilai sebesar Rp33.298.306.871,” terang Irawan Jatmiko belum lama ini.

Terkait proyek revitalisasi ketua LSM GCW yakni M.Dadang Iskandar menilai jika pemerintah Gunungkidul tidak mendengarkan masukan maupun aspirasi mengenai keberadaan patung kendang yang rencananya akan diganti dengan tugu tobong.

Sebelumnya DPRD Gunungkidul melalui Ketua dewan juga telah mengkritik terkait proyek revitalisasi tersebut, yang dipublikasikan oleh Lensamedia.co pada (26/09/2022), seperti berikut.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gunungkidul kembali melontarkan kritik terhadap proyek revitalisasi Kota Wonosari.

Kritik ini pun langsung ditujukan pada Pemerintah Kabupaten (Pemkab).

Dewan pun minilai, proyek revitalisasi Kota Wonosari sebagai bentuk arogansi ranah eksekutif.

Ketua DPRD Gunungkidul, Endah Subekti mengatakan, proyek besar ini minim partisipasi publik.

Ia pun menyebut proyek revitalisasi Kota Wonosari sebagai bentuk arogansi ranah eksekutif, dalam hal ini Pemkab Gunungkidul.

Sebab partisipasi hingga aspirasi masyarakat terbilang nihil.

“Kami pun tidak dimintai pendapat padahal kami sebagai lembaga yang mewakili rakyat,” kata Endah, pada Senin (26/09/2022).

Endah pun kembali menyoroti pembangunan monumen Tobong Gamping.

Monumen ini rencananya menggantikan Patung Pengendang di Bundaran Siyono Playen.

“Padahal rencana tersebut sudah mendapat banyak penolakan, namun ternyata tetap akan dibangun,” ujarnya.

Endah mengatakan rekomendasi untuk membatalkan pembangunan Tobong Gamping sudah diberikan oleh DPRD ke Pemkab Gunungkidul.

Namun rekomendasi ini dinilai tidak direspon, mengingat pembangunan tetap akan dilakukan.

Ia pun meragukan apakah monumen Tobong Gamping mampu menjadi ikon Gunungkidul yang baru.

Apalagi rencananya sendiri sudah mendapat banyak respon negatif dari masyarakat.

“Kalau tetap diganti, maka DPRD tidak akan ikut bertanggungjawab atas akuntabilitas dan efektivitas dari proyek ini,” ucap Endah.

(Red/Supadiyono)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Developed by Jasa Pembuatan Website Jogja