Iklan

Whatsapp Image 2021 03 04 At 08.50.32

Whatsapp Image 2021 03 04 At 08.50.32

Flickr Feed

Img 20230115 Wa0033

“Pandawa Boyong,” Panglima TNI, Kepala Staf Angkatan & Kapolri Perankan Cerita Wayang Orang

68
Spread the love

Jakarta, Suaradjogja.com — Sinergitas TNI-POLRI selalu terlihat dalam berbagai kesempatan. Tidak hanya dalam urusan kondusifitas keamanan saja, kedua instansi ini pun kompak melestarikan budaya kesenian tradisional.

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit bersama Panglima TNI Laksamana Yudo Margono tampil epik main wayang orang “Pandowo Boyong” di Teater Jakarta, Ismail Marzuki, Minggu 15 Januari 2023.

Panglima TNI Laksamana Yudo Margono dalam pagelaran wayang orang ‘Pandawa Boyong’ memerankan sosok Bima Sena. Sedangkan Kapolri memerankan tokoh Prabu Puntadewa.

Puntadewa dalam pewayangan digambarkan sebagai sosok manusia yang berhati suci dan membela kebenaran. Puntadewa juga digambarkan sebagai sosok manusia yang sabar, beriman, tekun beribadah, ikhlas dan jujur.

Para Kepala Staf TNI juga ikut ambil bagian. KSAD Jenderal Dudung Abdurachman memerankan sosok Batara Guru, KSAL Laksamana Muhammad Ali memerankan Batara Baruna, dan KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo memerankan Eyang Abiyasa.

Lakon Pandawa Boyong ini mengisahkan babak ketika lima orang ksatria bersaudara boyongan atau pindah dari Alengka yang dikuasai Kurawa ke Astinapura. Kepindahan itu untuk memerdekakan diri dari kekuasaan Kurawa.

Mereka harus berperang melawan Kurawa yang jumlahnya jauh lebih besar dengan punya persenjataan lebih banyak. Namun berkat kesungguhan yang didasarkan niat baik, Pandawa dapat memenangkan perang.

Boyongnya Pandawa ke Astina menjadi pesan moral kepada masyarakat agar lebih memahami, menghayati dan mengamalkan Pancasila. Bahkan sosok dalam Pandawa Lima pun relevan dengan semangat dan nilai-nilai Pancasila.

Puntadewa adalah simbol ketuhanan yang menjadi sila pertama dalam Pancasila. Bimasena yang adil dan penuh rasa kemanusiaan, mewakili sila ke dua Pancasila. Arjuna mencerminkan semangat persatuan dan kesatuan yang dinyatakan dalam sila ke tiga Pancasila.

Nakula menyimbolkan sila ke empat, yaitu permusyawaratan masyarakat. Sedangkan kembarannya, Sadewa simbol dari sila ke lima, keadilan sosial yang benar-benar adil.

Sementara itu pementasan wayang orang tersebut juga disaksikan ‘nonton bareng’ secara virtual oleh pejabat Polda serta jajaran Polres/ta di seluruh Indonesia.

Seperti di Polda DIY, Kapolda DIY Irjen Pol Suwondo Nainggolan didampingi sejumlah pejabatnya menyaksikan pementasan wayang orang yang diinisiasi oleh Panglima TNI Laksamana Yudo Margono tersebut.

Menurut Kapolda DIY, melestarikan budaya kesenian yang kita miliki menjadi semakin penting untuk dilaksanakan di tengah serbuan pengaruh budaya asing sebagai dampak dari globalisasi hasil kemajuan teknologi informasi dan digital.

“Kita harusnya lebih memilih wayang sebagai tontonan sekaligus tuntunan dalam kehidupan,” ujarnya di akhir acara.

Selain dihadiri sejumlah pejabat utama Polda DIY, turut hadir nonton bareng wayang orang Pandowo Boyong secara daring tersebut dari Forkopimda DIY.

(Redaksi)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Developed by Jasa Pembuatan Website Jogja