Iklan

Whatsapp Image 2021 03 04 At 08.50.32

Whatsapp Image 2021 03 04 At 08.50.32

Flickr Feed

Img 20211006 160858

Mbah Martono: Budaya ‘Gumreg’ Acara Ritual Tahunan Bagi Masyarakan Gunungkidul

121
Spread the love

Gunungkidul, Suaradjogja.com — ‘Gumreg’ adalah acara ritual tahunan bagi masyarakat Gunungkidul bagi para petani yang memiliki hewan ternak sapi, kerbau dan hewan lainya. Acara tersebut termasuk acara budaya adat sebagai ucap puji syukur terhadap Tuhan YME atas riski hewan ternak yang dilimpahkanya. Dari berbagai petani yang memiliki hewan ternak tersebut selalu melakukan acara adat pada bulan tertentu disetiap tahunnya yaitu pada “Mongso Gumreg” (Kelompok bulan bagi orang jawa).

Mengenai Gumreg dijelaskan oleh Mbah Martono, warga masyarakat Dusun Piyuyon, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul, D.I Yogyakarta pada Kamis, 5 Oktober 2021 sekira Pukul 16.00.Wib. disela-sela melakukan ritual Gumreg di kandang ternak miliknya. Pada intinya masyarakat moderen mengenal Gumbreg dengan istilah ‘lebaran hewan sapi dan lain sebagainya’.

“Lebaran hewan yang dimaksud adalah lebaran hewan ternak yang dipelihara oleh masyarakat setempat, seperti: sapi, kambing, ayam, dan hewan ternak lainnya,” jelas Mbah Martono.

Diadakan acara ritual Gumbreg mengandung harapan inti yaitu agar hewan ternak tersebut dapat berkembang biak dengan baik terbebas dari segala mara bahaya atau penyakit dan diharapkan hewan ternak mampu memberikan hasil yang bermanfaat bagi pemiliknya.

Sarana dan perlengkapan utama dalam ritual Gumbreg adalah ketupat yang menggabarkan banyaknya kesalahan manusia yang mana dilihat dari rumitnya anyaman. Kemudian didalam ketupat terisi beras yang nantinya akan dimasak hingga matang dengan maksud menggambarkan banyaknya kesalahan tersebut akan kembali suci setelah meminta ampun.

Selain Ketupat ada beberapa sarat lain yaitu “Pulo”. Pulo jenis makanan dari bahan baku tepung jagung yang di campur dengan gula merah (Gula Jawa) kemudian di masak dan di bikin bulat seperti bakso. Sarat yang satu ini memiliki tujuan sebagai tolak bala pada hewan ternak yang mana Pulo tersebut akan di taruh menggantung pada atap kandang dengan media daun kelapa yang dibikin kantong seperti ketupat. Bentuknya ketupat bersusun lebih dari Tiga dan hanya satu tangkai saja.

Syarat lain seperti tumpeng dan lauk pauk yang mana memiliki makna sedekah (Sodaqoh) yang nantinya akan dibagikan sanak saudara sekitar, sebagai tanda syukuran atas karunia rizki yang diujudkan hewan ternak oleh Tuhan yang maha Esa. Selain itu sanak saudara diharapkan saling mendo’akan agar hewan ternak tidak ada kendala apapun, hingga dapat bermanfaat.

(Rep/Novita).




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Developed by Jasa Pembuatan Website Jogja