Iklan

Whatsapp Image 2021 03 04 At 08.50.32

Whatsapp Image 2021 03 04 At 08.50.32

Flickr Feed

Img 20210414 200007

Masjid Al-Huda Peninggalan Ki Ageng Giring III Di Gunungkidul D.I Yogyakarta

240
Spread the love

 

Gunungkidul, Suaradjogja.com — Masjid Al-Huda di Pedukuhan Sidorejo, Kalurahan Sodo, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul,Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki sejarah menarik. Menurut keterangan beberapa sumber, masjid tersebut didirikan oleh Ki Ageng Giring III, penyebar agama Islam yang sering disebut-sebut sebagai penjaga wahyu dinasti Mataram, langsiran dari sumber beritainternusa.com.

Saat ini Masjid tersebut sudah memiliki tampilan modern. Pada bagian depan terdapat papan nama Masjid Kagungan Dalem Keraton Yogyakarta.

Mengenai tahun berapa tepatnya masjid tersebut dibangun, tak terlacak lagi. Takmir Masjid Al-Huda, Yusuf, hanya mengatakan bahwa masjid itu dibangun sejak masa Ki Ageng Giring III, lokasinya juga berdekatan dengan makam sang tokoh.

Peninggalan Ki Ageng Giring (III), tahun berapa tidak diketahui, tapi sekitar abad 14-15 itu,” kata Yusuf saat ditemui di Kompleks Pemakaman Ki Ageng Giring, Pedukuhan Sidorejo, Kalurahan Sodo, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Rabu (13/4/2021).

Terkait adanya plakat kagungan dalem (milik keraton) tersebut, menurutYusuf karena kompleks masjid, sendang hingga makam Ki Ageng Giring berada di tanah milik Keraton Yogyakarta. “Semuanya masuk keraton dan termasuk masjid juga,” ucapnya.

Ki Ageng Giring, papar Yusuf, adalah salah satu tokoh penyebar Islam di Jawa bagian selatan. Dia juga melakukan penggemblengan diri kuat untuk menunggu munculnya pemimpin baru tanah Jawa yang dia yakini akan bergeser ke bagian selatan, setelah sebelumya berpusat di Pantura (Demak dan Jepara) lalu geser ke Pajang (Solo).

Dalam pengisahan legenda Jawa, Ki Ageng Giring mendapat perintah untuk menanam sabut kelapa, dan ternyata sabut yang ditanam tersebut dapat tumbuh tunas dan menjadi pohon. Buah dari pohon itu dipercaya sebagai wahyu kerajaan yang akhirnya diminum Ki Ageng Pemanahan, pendiri dinasti Mataram.

Ki Ageng Giring itu termasuk orang yang dapat wahyu Keraton Mataram, terus juga penyebar agama Islam pada abad 14-15,” ujarnya.

Menurutnya, bentuk masjid tersebut hanya menyerupai gubug. Namun seiring perkembangan waktu mengalami beberapa renovasi. Pemugaran pertama yakni tahun 1935, kemudian dirubah total pada tahun 1960 karena mendapat bantuan dari Departemen Agama kala itu.

Saat ini Masjid tersebut mampu menampung 350 jemaah. “Terakhir, pemugaran dilakukan tahun 1982-1983 karena mendapat bantuan dari Presiden Soeharto,” ucapnya.

Siapa saja tokoh-tokoh yang pernah berkunjung ke masjid tersebut, Yusuf mengaku tak terhitung lagi. Dua tokoh besar yang disebutnya adalah Soeharto saat menjadi presiden dan Perdana Menteri Suriname saat itu.

Ya Bupati-Bupati itu banyak (yang pernah berkunjung untuk beribadah di Masjid Al-Huda),” ucapnya

(Redaksi)

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Developed by Jasa Pembuatan Website Jogja