Iklan

Whatsapp Image 2021 03 04 At 08.50.32

Whatsapp Image 2021 03 04 At 08.50.32

Flickr Feed

Img 20210920 Wa0003

Dugaan Korupsi Bantuan Sapi di Ponjong, Polres Gunungkidul Turunkan Tim Penyelidik

80
Spread the love

Gunungkidul, Suaradjogja.com- Sat Reskrim Polres Gunungkidul terjunkan anggotanya untuk menyelidiki kasus dugaan korupsi sapi bantuan pada Kelompok Ternak Dadi Makmur, Padukuhan Gedong, Kalurahan Sawahan, Kapanewon Ponjong sejak anggota kelompok berhasil menemukan ketidakjelasan dalam kepengurusan yang disampaikan saat pertemuan pada Sabtu, 18/09/2021. Serta pengelolaan aset yang dinilai sangat berantakan.

Img 20210920 Wa0004

Mantan Ketua Dadi Makmur,
Samsul Huda mengatakan kepengurusan telah diserahkan kepada Waino alias Wasimin sejak dirinya mengundurkan diri pada tahun 2018.

“Saya sudah mengundurkan diri sejak 2018, estafet kepengurusan ada di tangan Pak Waino. Semua dokumen dan lainnya sudah saya serahkan semua sehingga tidak ada satu pun dokumen maupun notulen di tangan saya,” kata Samsul Huda.

Selanjutnya ia menjelaskan, bantuan dana dari kementrian pada tahun 2015 diberikan kepada Kelompok Ternak Dadi Makmur. Namun, ia mengaku lupa berapa jumlah dananya, yang jelas diperuntukkan membangun kandang sapi komunal senilai kurang lebih Rp 250 juta, pembelian 10 ekor sapi 1 unit motor roda 3 serta 1 unit mesin choper pencacah pakan.

Pada perkembangannya, kelompok menjalankan usaha dan menyelenggarakan arisan rutin bulanan hingga 2018. Setelah itu Samsul Huda mengundurkan diri lalu berpindah domisili ke Kabupaten Klaten. Namun, meski mengaku telah mengundurkan diri, hingga saat ini Samsul masih membawa aset berupa motor roda 3.

“Betul motor saya bawa, karena tidak ada satu pun anggota yang mau saya serahi untuk bertanggung jawab,” kelit Samsul.

Sementara, roda organisasi kelompok Dadi Makmur tidak berjalan sebagaimana mestinya di tangan kepengurusan yang baru. Sebagai Ketua Dadi Makmur, Waino alias Wasimin tidak membentuk kepengurusan yang lazim dimana tidak ada sekretaris maupun bendahara definitif. Arisan anggota kelompokpun bubar lantaran persoalan internal. Konon, tanpa persetujuan anggota kelompok yang lain Waino berani menjual 3 ekor sapi bantuan.

“Saya tidak pernah merasa atau ditunjuk sebagai ketua. Yang jelas saya sanggup mengembalikan 3 ekor sapi yang saya jual kepada kelompok. Namun saya minta waktu 10 hari untuk pengadaan sapi itu,” kilah Waino.

Sedangkan saat ditemui awak media beberapa pamong kelurahan Sawahan mengaku tidak tahu menahu urusan kelompok Dadi Makmur. Pasalnya, sulit untuk dilakukan monitoring maupun pembinaan dikarenakan dana dari kementrian langsung diberikan kepada kelompok.

“Kami di kelurahan nggak ikut-ikutan. Soalnya beberapa hari lalu di kantor kelurahan ada tamu dari Unit Tipikor Polres. Yang menghadapi Pak Carik, jadi karena ini nada nadanya mau sampai ke ranah hukum, tolong kami jangan dikait kaitkan. Biar ditangani aparat penegak hukum saja,” kata salah satu pamong Kelurahan Sawahan.

Disisi lain, Dukuh Gedong yaitu Catur meminta warganya yang ikut tergabung dalam Kelompok Ternak Dadi Makmur untuk terbuka di hadapan kepolisian yang melakukan investigasi di lapangan.

“Saya harap anggota dan pengurus terbuka saja, sebab ibarat nasi sudah menjadi bubur harus disikapi dengan sebaik baiknya. Jangan saling tuding saling tunjuk, kalau seperti ini caranya tidak akan selesai persoalan ini,” pinta Catur.

Sementara, hingga berita ini diunggah belum ada keterangan resmi dari kepolisian Polres Gunungkidul terkait penanganan dugaan korupsi di Kelompok Ternak Dadi Makmur. (Red)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Developed by Jasa Pembuatan Website Jogja