Iklan

Whatsapp Image 2021 03 04 At 08.50.32

Whatsapp Image 2021 03 04 At 08.50.32

Flickr Feed

Img 20191214 Wa0104

Dilema Rencana Penghapusan UN

674
Spread the love

SuaraDjogja.com – Kebijakan pemerintah yang berencana penghapusan Ujian Nasional dalam program kebijakan ‘Merdeka Belajar’ yang akan diterapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menuai pro dan kontra.

Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Buya Syafii Maarif meminta pemerintah jangan tergesa-gesa menerapkan penghapusan Ujian Nasional.Seperti yang di langsir dari laman Tribunnews Sabtu (14/12/19).

Senada dengan Buya Syafii Ma’arif, Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri 5 Gunungkidul Ponco Budi Susilo, S.Pd.,MA.¬†saat di temui awak media di kantornya, Sabtu (14/12/19), mengatakan dengan ramainya informasi akan di hapuskan UN di media baik media sosial mau pun televisi membuat minat belajar peserta didik menjadi berkurang, dan hal ini membuat kebingungan para guru dalam memacu belajar para peserta didiknya.

“Untuk rencana UN mau dihapuskan ini sudah ada kekawatiran para guru, bahwa nanti anak-anak minat belajar nya berkurang,” ungkap Ponco.

Ponco menegaskan walaupun dirinya sebagai Kepala Madrasah selalu mengikuti petunjuk dari atas namun iya berpendapat bahwa UN (Ujian Nasional) sangat di perlukan untuk syarat kelulusan.

“Secara kebijakan sebagai Kepala Madrasah kita selalu mengikuti atasan, namun UN juga santa perlu untuk syarat kelulusan, karena dengan UN anak-anak memiliki semangat belajar,” imbuhnya.

Ia pun menambahkan bahwasannya setiap orang memiliki standarnya masing-masing sehingga UN menjadi tolak ukurnya, apa kah seorang siswa dapat dikatan lulus atau tidaknya.

“Kita kan ngak bisa menyamaratakan anak yang pinter dengan anak yang tidak pinter, ini kan juga menjadi rancu pada saat yang anak yang tidak pinter di luluskan, Karena menurut pendapat saya bila ada anak yang tidak lulus ya ngak apa, karena dengan ketidak lulusan nya bisa menjadi cambuk agar dia lebih giat lagi belajarnya, nilai usaha itu bagian dari proses belajar, akhirnya anak yang tidak pintar beranggapan nggak belajar aja lulus, sehingga nilai jati diri seorang anak tidak terbentuk, tidak ada upaya untuk meraih sesuatu,” katanya.

Saat di tanyakan dengan gonta-ganti nya kebijakan Ponco mengatakan sangat membingungkan walaupun dirinya tetap melaksanakan apa yang telah di perintahkan oleh atasan.

Iya berharap seharusnya ada sebuah blue print sebuah kebijakan sehingga tidak setiap lima tahunan berganti kebijakan.

“Secara reel ini sangat membingungkan, ko setiap ganti Mentri ganti pula kebijakan, sehingga pada saat ganti kebijakan, kebijakan yang sebelumnya juga belum sempurna pelaksaannya di tingkat bawah namun sudah berganti lagi, walaupun kita tidak bisa berbuat apa-apa jadi menunggu kebijakan menjadi sesuatu yang netral bagi kami,” tambahnya.

Ia tetap berharap ada sesuatu yang baik dengan bergantinya kebijakan, Ponco juga menegaskan dirinya juga terus memberikan inovasi kepada peserta didiknya.
(WAP)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Developed by Jasa Pembuatan Website Jogja